"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." (Pramoedya Ananta Toer)

Friday, January 11, 2013

Sudah 2013, time really move fast!!

let's fly, move fast, and jump :)

Sudah 2013 ternyata, dan saya masih belum membuat satu postingan sama sekali. Jadi, malam ini sudah diniatkan untuk menulis (lagi).

2013 ini dimulai dengan berakhirnya desember 2012, semua juga tahu ah, gak penting. Hal penting adalah dimulai dengan permintaan orang tua, untuk saya agar sekolah lagi. Memang dari dulu sebelum bekerja in juga sudah pernah dipertimbangkan akan keputusan satu itu. namun 2012 awal saya lebih memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu, mencari pengalaman, itu kata yang sering dijadikan alasan.

2013 di bulan desember nanti, pengalaman bekerja saya akan genap 2 tahun, dan sepertinya sudah cukup bagi saya untuk satu tahapan itu. Memulai tahap selanjutnya di tahun 2014 (nanti) insya allah status saya adalah mahasiswa (amiiin).

Pada awalnya saat ditodong untuk sekolah lagi itu ada sedikit kaget dan ragu, karena ada rencana lain yang ingin diutarakan, menikah!. Iya saya memang berencana menikah di tahun 2013, namun semua berubah, menikah itu tetap menjadi niat utama, hanya saja prosesnya sedikit diperpanjang.

Selalu melihat sisi baik di balik rencana Allah, itu yang selalu saya jadikan mantra dalam melihat setiap peristiwa. Daripada kita terpuruk karena merasa rencana awal berubah, dan kita memilih untuk tidak "nrimo", sepertinya hanya akan memperburuk keadaan. Hey, there's still C to Z if plan A or B doesn't work!! :). Setelah benar-benar memikirkan keputusan baru itu, entahlah seolah mendapat rezeki yang tak terduga, saya sangat lebih bersemangat dan menikmati setiap harinya. Meskipun masalah yang lagi-lagi dari pekerjaan tetap ada, but that's a process of life!!

Menteng, 11012013, 6:56PM


Thursday, November 29, 2012

salah satu alasan saya lebih suka lelaki yg tdk putih :))))

Sore ini, saya melakukan kegiatan seperti biasa di tengah-tengah kejenuhan bekerja, blogwalking. Lalu menemukan sebuah artikel yang menurut saya memang benar, karena dari beberapa alasan yang dikemukakan terutama tentang penyiksaan itu sering saya lihat di beberapa film. Entah mengapa tiba-tiba saya jadi kepikiran kalo saya selama ini juga tidak begitu suka dengan lelaki berkulit putih, kesannya mereka itu sensitif, bahkan mungkin lebih feminin dibanding saya :))).
Tetapi bukan pula yang selegam will smith atau denzel washington, yang pasti tidak se licin para cowok korea itu deh :))).

Postingan ini boleh dianggap becanda, namun harus tetap serius yaaa, :D

Kalau penasaran dengan srtikel itu, silakan di cek sendiri ya, mungkin banyak yang setuju nantinya :D

http://gamilamila.wordpress.com/2011/12/20/makin-pucat-makin-sakit/

Menteng, 29112012, 04:28PM

Monday, November 26, 2012

Apa sudah mentok sama yang ini?




Apa yang terbayang bila sekilas membaca judul tersebut? Saya meyakini bahwa pasti masalah perjodohan yang akan terpikir. Karena selanjutnya, memang itu yang akan saya bahas.
Berawal dari obrolan kerjaan dengan teman sejawat (baca: teman kantor) yang membahas kerjaan di weekend, dimana saya harus handle tamu dari sebuah perusahaan dengan mayoritas peserta adalah kaum adam, cowok, laki-laki, pria, atau terserah sebutannya. Saya hanya menanggapi dengan tersenyum, tapi si teman sejawat ini justru nyeletuk, “apa sudah mentok sama yang ini?”.
Well, sebagian orang mungkin tidak mau menanggapi, seperti saya, saya hanya menanggapi dengan senyuman. Meskipun dalam hati dan pikiran saya tidak bisa menganggap remeh pertanyaan itu. Semuanya karena saya punya masalah dengan omongan orang lain, saya kurang begitu suka dengan omongan mereka yang sok tahu tanpa mempedulikan yang sebenarnya dan hanya menggunakan kaca mata pribadi dalam menanggapi sebuah masalah. It does seem so serious rite now, isn’t it?
Dari tanggapan saya yang sangat serius itu sebenarnya tersimpan sebuah penjelasan panjang kali lebar kali tinggi yang ingin saya jelaskan, namun saya kurang yakin teman sejawat saya bakal mampu menerima penjelasan saya. Untuk masalah jodoh, kalau kata kakak saya adalah suatu hal yang tidak bisa digampangkan tapi juga tidak boleh membuat hidup kita semakin sulit, let it flow.
Sebelum saya menemukan sosok pacar yang sampai saat ini saya yakini sebagai jodoh saya, saya ada dalam fase kalau anak jaman sekarang menyebutnya “susah move on”. Saya masih terjebak atau menjebakkan diri ke dalam nostalgia. Namun, ketika saya bertemu dengan lelaki yang satu ini, hati yang lama menutup diri ini secara spontan, tiba-tiba, dan tanpa tedeng aling-aling (aduuh bahasa saya :D ) membiarkannya masuk dan sampai saat ini kita berproses bersama.
Saya merasa mengalami yang disebut cinta itu tidak mempunyai alasa, karena ketika saya ditanya alasannya, saya benar-benar tidak tahu. Saya juga merasa apa yang dikatakan orang-orang kalau mr.right, sosok yang sempurna, itu adalah bagaimana cara kita melihatnya. Jadi, jangan mencari ketidaksempurnaan itu, atau jangan berusaha menemukan yang tidak ada dalam dirinya, namun lebih menerima dan berusaha mengerti, maka bersyukur adalah satu-satunya kunci.
Jika mencari ketidaksempurnaan itu, mudah kok, tapi apakah kita mau ketidaksempurnaan kita juga berusaha ditemukan?. Pasti tidak kan?. Justru ketika menyadari nya maka kenapa tidak berusaha membuat sebuah rencana yang sempurna dibalik ketidaksempurnaan itu? Perfect in imperfection!!
Kembali ke alasan apakah saya sudah mentok atau mungkin menyerah dengan yang saya temui saat ini? jawaban saya tidak, karena saya ingin bersyukur kepada Allah karena justru saya merasa hubungan kita itu akan sempurna pada nantinya. Saya sudah tidak mau lagi mencari yang lebih sempurna (mungkin), tapi apakah benar dia akan lebih sempurna? Itu juga akan menimbulkan pertanyaan “mentok” lagi kan?.
Saat ini saya hanya ingin membuat rencana sempurna tentang pernikahan seperti apa, kehidupan setelah menikah, bagaimana cara mendidik anak, masalah keuangan keluarga, the way we live dan complete each other. Tahap ini yang sedang kami rancang, dan saya merasa pacar saya adalah orang yang tepat untuk berbagi ide tentang rencana-rencana itu.

Kita sama-sama ingin pernikahan yang sederhana.
Kita sama-sama ingin tetap melanjutkan passion kita meski setelah menikah.
Kita sama-sama ingin mendidik anak dengan gaya kita, menggunakan metode cerita, lebih memberikan mereka buku daripada mainan, menuliskan diary mereka dari kecil sehingga ketika besar mereka tahu prosesnya, dan memberikan mereka kebebasan akan passion.
Kita sama-sama ingin live like a movie, with a sudden kiss during daily life. Membayangkannya saja sudah menyenangkan.
Dan kita sama-sama berdoa agar rencana kita sejalan dengan rencana Allah, amiin.

Dari alasanitu, saya kembali lagi bertanya? Apakah dengan rencana yang kami buat masih dikatakan bahwa kita sudah mentok? Atau kalau saya mencari lagi kesempurnaan itu kita akan sama-sama punya rencana yang sedemikian indahnya? Atau kalaupun mencari lagi, bukankah saya harus membuat rencana itu lagi? Bisa lebih baik atau justru merubah semua rencana yang justru akan menghabiskan waktu. Padahal ketika saya mencari lagi, saya atau siapapun tidak akan bisa menjamin kesempurnaan yang tidak mentok itu seperti apa kan?.

Jadi, inilah jawaban saya J.
Menteng, 221112, 5.49PM

Tuesday, November 6, 2012

Air Supply ;)

source: google images

post ini seharusnya untuk kemarin sore, tapi karena internet kantor sedang down, apa daya pagi hari baru saya post :D

Sore ini, teman satu ruangan memutar album Air Supply, entah album yang mana, tapi saya bisa saja mengikutinya, berdendang bersama. Kalau music menunjukkan usia, jelas tidak berlaku di saya, Air Supply itu pasti era 60an, 70an, sedangkan saya officially Y generation, 1987. Jadi bagaimana saya bisa mengikuti lagu mereka?. Bahkan mungkin sejak SMP saya sudah suka dengan om Air Supply.

Saya tersadar ketika teman lain yang seruangan nyletuk “ hafal amat”.. hihihi.
Saya tersadar lagi, ingat kata keluarga saya akan kebiasaan saya waktu kecil. Bila semua orang di rumah sedang sholat jamaah, dan saya ditinggal sendiri radio menjadi teman saya. Keluarga saya bilang kalau sudah diputarkan radio saya berhenti menangis.

Dari situ, sepertinya yang diperdengarkan di telinga saya adalah lagu Air Supply, itu analisis saya. Karena, dari mana saya bisa seolah-olah sudah familiar dengan mereka. Bukankah otak manusia mampu menyimpan data dan akan memanggil memori itu saat dibutuhkan.

Jadi, kesimpulan saya, lagu Air Supply ini hanya satu contoh kecil prosesi memanggil memori itu.

Menteng, 051112, 03:49PM

Saturday, October 27, 2012

Saya membenci hujan di Jakarta.

Source: google images


Pagi ini Jakarta hujan…
Hujan yang lama tak datang ini membuat saya berimajinasi lagi. Imajinasi yang ingin saya bagi denganmu,seperti isi whatsapp saya tadi pagi. Hujan pagi hari dan weekend, saya tak ingin kemana-kemana. Saya hanya ingin mengobrol sambil menikmati kopi denganmu. Duduk sambil melihat hujan dari balik jendela, dan mendengarnya yang sedang berjatuhan di atap rumah. Lovely..

Di obrolan itu, saya mau cerita tentang senangnya menikmati hujan saat kecil. Berlari-larian di halaman rumah, tertawa, dan lari lagi. Suatu hal yang tak mungkin dilakukan ketika hujan hilang. Aroma tanah yang tersapu air hujan itu sangat khas, mampu membuat terbuai seperti kue yang baru keluar dari oven.

Tapi tiba-tiba imajinasi itu hilang, menguap, dan hancur. Semua karena bau comberan, ya comberan. Di Jakarta ini tidak ada lagi bau tanah yang bercumbu dengan air hujan. Semua tanah telah ditutup oleh cor-coran semen. Membuat kubangan yang ketika hujan meluber dan merusak keindahan hujan.
Saya membenci hujan di Jakarta.

Ayolah kita pulang, menikmati kopi di balik jendela, mengobrol, dan bila hujan bertambah deras, ayo kita keluar, merasakan hujan, mencium aroma tanah, dan berlarian.

Menteng, 27102012, 1:11 PM

Saya

My Photo
perempuan yang tak bisa mengerti kemauan diri sendiri

buku tamu

Rekan

Powered by Blogger.