"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." (Pramoedya Ananta Toer)

Thursday, November 29, 2012

salah satu alasan saya lebih suka lelaki yg tdk putih :))))

Sore ini, saya melakukan kegiatan seperti biasa di tengah-tengah kejenuhan bekerja, blogwalking. Lalu menemukan sebuah artikel yang menurut saya memang benar, karena dari beberapa alasan yang dikemukakan terutama tentang penyiksaan itu sering saya lihat di beberapa film. Entah mengapa tiba-tiba saya jadi kepikiran kalo saya selama ini juga tidak begitu suka dengan lelaki berkulit putih, kesannya mereka itu sensitif, bahkan mungkin lebih feminin dibanding saya :))).
Tetapi bukan pula yang selegam will smith atau denzel washington, yang pasti tidak se licin para cowok korea itu deh :))).

Postingan ini boleh dianggap becanda, namun harus tetap serius yaaa, :D

Kalau penasaran dengan srtikel itu, silakan di cek sendiri ya, mungkin banyak yang setuju nantinya :D

http://gamilamila.wordpress.com/2011/12/20/makin-pucat-makin-sakit/

Menteng, 29112012, 04:28PM

Monday, November 26, 2012

Apa sudah mentok sama yang ini?




Apa yang terbayang bila sekilas membaca judul tersebut? Saya meyakini bahwa pasti masalah perjodohan yang akan terpikir. Karena selanjutnya, memang itu yang akan saya bahas.
Berawal dari obrolan kerjaan dengan teman sejawat (baca: teman kantor) yang membahas kerjaan di weekend, dimana saya harus handle tamu dari sebuah perusahaan dengan mayoritas peserta adalah kaum adam, cowok, laki-laki, pria, atau terserah sebutannya. Saya hanya menanggapi dengan tersenyum, tapi si teman sejawat ini justru nyeletuk, “apa sudah mentok sama yang ini?”.
Well, sebagian orang mungkin tidak mau menanggapi, seperti saya, saya hanya menanggapi dengan senyuman. Meskipun dalam hati dan pikiran saya tidak bisa menganggap remeh pertanyaan itu. Semuanya karena saya punya masalah dengan omongan orang lain, saya kurang begitu suka dengan omongan mereka yang sok tahu tanpa mempedulikan yang sebenarnya dan hanya menggunakan kaca mata pribadi dalam menanggapi sebuah masalah. It does seem so serious rite now, isn’t it?
Dari tanggapan saya yang sangat serius itu sebenarnya tersimpan sebuah penjelasan panjang kali lebar kali tinggi yang ingin saya jelaskan, namun saya kurang yakin teman sejawat saya bakal mampu menerima penjelasan saya. Untuk masalah jodoh, kalau kata kakak saya adalah suatu hal yang tidak bisa digampangkan tapi juga tidak boleh membuat hidup kita semakin sulit, let it flow.
Sebelum saya menemukan sosok pacar yang sampai saat ini saya yakini sebagai jodoh saya, saya ada dalam fase kalau anak jaman sekarang menyebutnya “susah move on”. Saya masih terjebak atau menjebakkan diri ke dalam nostalgia. Namun, ketika saya bertemu dengan lelaki yang satu ini, hati yang lama menutup diri ini secara spontan, tiba-tiba, dan tanpa tedeng aling-aling (aduuh bahasa saya :D ) membiarkannya masuk dan sampai saat ini kita berproses bersama.
Saya merasa mengalami yang disebut cinta itu tidak mempunyai alasa, karena ketika saya ditanya alasannya, saya benar-benar tidak tahu. Saya juga merasa apa yang dikatakan orang-orang kalau mr.right, sosok yang sempurna, itu adalah bagaimana cara kita melihatnya. Jadi, jangan mencari ketidaksempurnaan itu, atau jangan berusaha menemukan yang tidak ada dalam dirinya, namun lebih menerima dan berusaha mengerti, maka bersyukur adalah satu-satunya kunci.
Jika mencari ketidaksempurnaan itu, mudah kok, tapi apakah kita mau ketidaksempurnaan kita juga berusaha ditemukan?. Pasti tidak kan?. Justru ketika menyadari nya maka kenapa tidak berusaha membuat sebuah rencana yang sempurna dibalik ketidaksempurnaan itu? Perfect in imperfection!!
Kembali ke alasan apakah saya sudah mentok atau mungkin menyerah dengan yang saya temui saat ini? jawaban saya tidak, karena saya ingin bersyukur kepada Allah karena justru saya merasa hubungan kita itu akan sempurna pada nantinya. Saya sudah tidak mau lagi mencari yang lebih sempurna (mungkin), tapi apakah benar dia akan lebih sempurna? Itu juga akan menimbulkan pertanyaan “mentok” lagi kan?.
Saat ini saya hanya ingin membuat rencana sempurna tentang pernikahan seperti apa, kehidupan setelah menikah, bagaimana cara mendidik anak, masalah keuangan keluarga, the way we live dan complete each other. Tahap ini yang sedang kami rancang, dan saya merasa pacar saya adalah orang yang tepat untuk berbagi ide tentang rencana-rencana itu.

Kita sama-sama ingin pernikahan yang sederhana.
Kita sama-sama ingin tetap melanjutkan passion kita meski setelah menikah.
Kita sama-sama ingin mendidik anak dengan gaya kita, menggunakan metode cerita, lebih memberikan mereka buku daripada mainan, menuliskan diary mereka dari kecil sehingga ketika besar mereka tahu prosesnya, dan memberikan mereka kebebasan akan passion.
Kita sama-sama ingin live like a movie, with a sudden kiss during daily life. Membayangkannya saja sudah menyenangkan.
Dan kita sama-sama berdoa agar rencana kita sejalan dengan rencana Allah, amiin.

Dari alasanitu, saya kembali lagi bertanya? Apakah dengan rencana yang kami buat masih dikatakan bahwa kita sudah mentok? Atau kalau saya mencari lagi kesempurnaan itu kita akan sama-sama punya rencana yang sedemikian indahnya? Atau kalaupun mencari lagi, bukankah saya harus membuat rencana itu lagi? Bisa lebih baik atau justru merubah semua rencana yang justru akan menghabiskan waktu. Padahal ketika saya mencari lagi, saya atau siapapun tidak akan bisa menjamin kesempurnaan yang tidak mentok itu seperti apa kan?.

Jadi, inilah jawaban saya J.
Menteng, 221112, 5.49PM

Tuesday, November 6, 2012

Air Supply ;)

source: google images

post ini seharusnya untuk kemarin sore, tapi karena internet kantor sedang down, apa daya pagi hari baru saya post :D

Sore ini, teman satu ruangan memutar album Air Supply, entah album yang mana, tapi saya bisa saja mengikutinya, berdendang bersama. Kalau music menunjukkan usia, jelas tidak berlaku di saya, Air Supply itu pasti era 60an, 70an, sedangkan saya officially Y generation, 1987. Jadi bagaimana saya bisa mengikuti lagu mereka?. Bahkan mungkin sejak SMP saya sudah suka dengan om Air Supply.

Saya tersadar ketika teman lain yang seruangan nyletuk “ hafal amat”.. hihihi.
Saya tersadar lagi, ingat kata keluarga saya akan kebiasaan saya waktu kecil. Bila semua orang di rumah sedang sholat jamaah, dan saya ditinggal sendiri radio menjadi teman saya. Keluarga saya bilang kalau sudah diputarkan radio saya berhenti menangis.

Dari situ, sepertinya yang diperdengarkan di telinga saya adalah lagu Air Supply, itu analisis saya. Karena, dari mana saya bisa seolah-olah sudah familiar dengan mereka. Bukankah otak manusia mampu menyimpan data dan akan memanggil memori itu saat dibutuhkan.

Jadi, kesimpulan saya, lagu Air Supply ini hanya satu contoh kecil prosesi memanggil memori itu.

Menteng, 051112, 03:49PM

Saturday, October 27, 2012

Saya membenci hujan di Jakarta.

Source: google images


Pagi ini Jakarta hujan…
Hujan yang lama tak datang ini membuat saya berimajinasi lagi. Imajinasi yang ingin saya bagi denganmu,seperti isi whatsapp saya tadi pagi. Hujan pagi hari dan weekend, saya tak ingin kemana-kemana. Saya hanya ingin mengobrol sambil menikmati kopi denganmu. Duduk sambil melihat hujan dari balik jendela, dan mendengarnya yang sedang berjatuhan di atap rumah. Lovely..

Di obrolan itu, saya mau cerita tentang senangnya menikmati hujan saat kecil. Berlari-larian di halaman rumah, tertawa, dan lari lagi. Suatu hal yang tak mungkin dilakukan ketika hujan hilang. Aroma tanah yang tersapu air hujan itu sangat khas, mampu membuat terbuai seperti kue yang baru keluar dari oven.

Tapi tiba-tiba imajinasi itu hilang, menguap, dan hancur. Semua karena bau comberan, ya comberan. Di Jakarta ini tidak ada lagi bau tanah yang bercumbu dengan air hujan. Semua tanah telah ditutup oleh cor-coran semen. Membuat kubangan yang ketika hujan meluber dan merusak keindahan hujan.
Saya membenci hujan di Jakarta.

Ayolah kita pulang, menikmati kopi di balik jendela, mengobrol, dan bila hujan bertambah deras, ayo kita keluar, merasakan hujan, mencium aroma tanah, dan berlarian.

Menteng, 27102012, 1:11 PM

Wednesday, October 24, 2012

This is how I feel when I’m with you; happy, happier, the happiest!!



Source: by atam 

Amygdala, sebuah bagian otak yang memegang kendali akan emosi. Saya pernah menyinggunya sedikit dalam sebuah posting di blog ini.  disitu saya merasa amygdala saya sedang sangat dominan mengendalikan perasaan saya, bahkan saya merasa itu di luar logika. Ketika dihubungkan dengan logika terkadang justru saling bersinggungan saja namun tidak menemukan titik temu, sebuah misteri.

Amygdala sangat berhubungan dengan emosi, emosi sangat penting bagi rasionalitas. Kemampuan emosional mampu membimbing seseorang, apakah keputusan itu tepat atau justru salah kaprah. Sepertinya itu yang sedang saya alami, pertarungan emosi dalam diri saya membuat amygdala memberikan pengaruh sedikit negatif. Hal tersebut terutama dalam masalah pekerjaan saya, entahlah saya berusaha mengalihkan perhatian emosi ini. Memberikan sugesti yang positif, namun sepertinya sudah terlambat. Kekacauan sudah terjadi dan saya kalah oleh emosi itu, semua diluar kendali dan luar rencana.

Selain amygdala, sepertinya satu bagian penting juga sangat berperan dalam semua kejadian akhir-akhir ini. Hati, bagaimanapun juga sekerat daging ini adalah intinya. Dalam sebuah hadist juga disebutkan:
Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati." (HR. Bukhari)

Hati, itulah sebenarnya yang sedang berperan penting dalam kehidupan saya saat ini. Secara intelektualitas rasional saya masih bisa memetakan prioritas, membuat mapping, dan focus akan hal-hal yang harus dilakukan. Namun hati saya, lebih ingin berada di dekat hati yang lain. Istilah jauh di mata dekat di hati itu seakan hanya sebuah omong kosong bagi saya. Saya sangat tidak bisa membohongi bila ternyata bahagia, lebih bahagia, dan sangat bahagia ketika hati saya berada dekat. Sedangkan saat ini proses melipat jarak itu masih jauh dari kata dekat.

Seperti ekspresi dalam foto saya ini, sangat alami, saya benar-benar tidak membuat ekspresi palsu. Itulah ekspresi yang mampu menggambarkan ketika saya mampu melipat jarak itu. Ekspresi bahagia, ekspresi antusias, dan ekspresi nyaman. Saya ingin membuat ekspresi itu setiap saat, namun saat ini sepertinya masih belum bisa saya lakukan dengan tulus. Amygdale dan hati sedang tidak dalam satu jalur, saya harus bersabar.

Menteng, 241012, 07:37PM

Saya

My Photo
perempuan yang tak bisa mengerti kemauan diri sendiri

buku tamu

Rekan

Powered by Blogger.