"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." (Pramoedya Ananta Toer)

Wednesday, December 14, 2011

alert!!!

it's been a years or more, i didn't write anything,
let's say, i'm in hiatus time :)
but, from now on, i'll be back!!
so, just wait and see :))

Monday, April 18, 2011

MENGETAHUI, MEMAHAMI, dan MEMAKNAI

source: tumblr.com
Kita mungkin mengetahui segala hal yang ada di muka bumi ini, namun pernahkan kita memahami dan memaknainya? mungkin kita tidak memahami namun bagaimana bisa kita memberikan makna subjektif? haruskah kita mengetahui segalanya? memahami dan memaknainya? atau kita harus pasif, lebih baik tak tahu apa-apa daripada kita akan dibuat pusing masalah pemahaman dan pemaknaan.

Semoga paragraf diatas tidak membuat kalian pusing, atau berpikir bahwa itu adalah sebuah pembukaan dari ceramah agama, atau apapun yang membingungkan. Ketiga istilah tersebut memang istilah umum, kita sering mendengar, dan menggunakannya. Namun mungkin kita tidak pernah benar-benar memahami istilah tersebut. Kita perlu ingat lagi bahwa kata bisa jadi bukan hanya sebuah kata-kata namun ada suatu hal yang kompleks dibaik setiap kat-kata. Well, mungkin kita berpikir pembahasan ini akan semakin ruwet dan kompleks. Mari kita analisis satu per satu kata-kata tersebut.

Apakah anda mengetahui arti MENGETAHUI?
Apakah anda memahami arti MEMAHAMI? 
Apakah anda memaknai arti MEMAKNAI?
(sounds crazy huh??)

Sebenarnya permasalahan ini muncul karena pertanyaan seorang teman, ketika ia ujian skripsi, ia ditanya tentang penggunaan terminologi kata pemaknaan dan pemahaman. Dia disuruh memilih untuk menggunakan istilah yang mana, dan ia juga ditanya apakah dua istilah tersebut berbeda?. Menurut dosen yang bertanya dua istilah tersebut mempunyai arti yang sama, ia menjelaskan bahwa ketika seseorang memahami sesuatu maka ia pasti bisa memaknainya. 1st case is closed!??.

Namun, teman saya lalu bertanya pada saya dan teman saya yang lain, dan kita berdua sepakat bahwa hal tersebut tidak sama, teman saya berkata bahwa dua istilah tersebut merupakan suatu tahapan, kita akan memahami terlebih dahulu baru bisa memaknai. Teman saya yang bertanya lalu mengatakan penjelasan yang diberikan dosennya, bahwa ketika seseorang memahami, maka ia akan bisa memaknai. Lalu saya bertanya apakah ketika seseorang memaknai sesuatu pasti memahaminya?. Perdebatan akhirnya menyimpulkan bahwa dua hal istila itu berbeda, orang yang memahami sesuatu kadang belum tentu bisa memaknainya. 2nd case is closed!!.

Keesokan malamnya teman saya mengirim sms dan masih menanyakan pertanyaan yang sama, ia sedang melakukan revisi skripsi dan lupa dengan kesimpulan masalah pemaknaan dan pemahaman tersebut. Dan karena saya juga lupa-lupa ingat, maka saya menjawab seingat saya saja. Namun setelah menjawab sms tersebut saya justru memikirkan jawaban saya tadi. Akhirnya saya berhenti sebentar dari kegiatan melanjutkan skripsi saya untuk kembali memikirkan jawaban saya tadi. Lalu saya mengirim sms lagi kepada teman saya, saya bilang bahwa seseorang bisa juga memaknai sesuatu meskipun ia tidak memahaminya. Teman saya lalu menjawab ”bagaimana mungkin bisa memaknai kalau tidak memahami”??. Baiklah “kita bisa ambil contoh anak kecil, ia terkadang tidak memahami suatu hal, tapi ia punya pemaknaan sendiri kan akan hal tersebut?”. Jawab saya. Lalu teman saya menanyakan terminologi mana yang seharusnya ia gunakan untuk skripsinya, dan saya menyarankannya untuk menggunakan Pemaknaan. 3rd case is closed??

Dari ketiga kronologis tersebut sebenarnya saya masih memikirkan tentang penggunaan istilah memahami dan memaknai. Permasalahan sepele namun menurut saya sangat urgent and important!. Saya lalu menambahkan satu istilah lagi yaitu Mengetahui, istilah ini saya ikut sertakan untuk menguji apakah ketiga hal ini benar-benar merupakan sebuah tahap atau proses, atau ketiga istilah ini bisa berdiri sendiri-sendiri, atau mungkin justru ketiganya punya satu pengertian?. Dengan begini, 1st, 2nd, and 3rd case is not closed yet!!. Penjelasan selanjutnya adalah sebuah penjelasan yang berasal analisis saya sendiri. Saya tidak memaksa anda untuk mengikutinya atau dijadikan sebuah referensi, it’s so subjective!.

Bagi sebagian orang mungkin mereka berpikir bahwa saya terlalu memusingkan suatu yang sepele, membuat susah sesuatu yang mudah. Namun menurut saya ini tidak sepele dan memang sulit. Baiklah, kita langsung membuang kemungkinan bahwa tiga istilah tersebut mempunyai arti yang sama, alasannya adalah kalau ketiganya punya arti yang sama tidak mungkin ada perbedaan istilah. Lagi pula penggunaannya juga berbeda.
            “saya Mengetahui bahwa dia anak yang pintar”
            “saya Memahami bahwa ia anak yang pintar”
            “saya Memaknai bahwa ia anak yang pintar”
Apakah menurut anda ketiga kalimat tersebut mempunyai arti yang sama?. Pada kalimat pertama mempunyai arti bahwa saya tahu bahwa dia pintar, mungkin dari melihat IPKnya, prestasinya, jadi apa yang saya ketahui sangat terbatas. Lalu di kalimat kedua saya paham ia pintar, disini bisa jadi saya lebih mengenal orang yang saya katakan pintar, saya memahami tidak hanya dari apa yang terlihat di luar atau bahkan dia tidak pintar secara akademis namun ia pintar dalam hal lain. Dan disini pintar menjadi sebuah pengertian yang subjektif, bukan absolute. Lalu ketiga saya memaknai seseorang pintar, proses memaknai ini bisa berasal dari alasan tersendiri, dan tiap orang bisa sangat berbeda dalam memaknai kata pintar.

Lalu saya lihat di kamus besar bahasa Indonesia, dimana mengetahui dengan kata dasar tahu berarti; 1. mengerti sesudah melihat, 2. Kenal (akan); mengenali, 3. Mengindahkan; mempedulikan, 4. Mengerti; berpengertian, 5. Pandai; cakap, 6. Insaf; sadar, 7. Pernah. Untuk kata memahami, berasal dari kata dasar paham yang artinya; 1. Pengertian, 2. Pendapat; pikiran, 3. Mengerti benar (akan); tahu benar (akan), 4. Pandai dan mengerti benar (dlm sesuatu hal). Terminology terakhir adalah memaknai yang berkata dasar makna ini memiliki pengertian; arti atau maksud (sesuatu kata). 

Baiklah, ternyata kapasitas saya hanya cukup sampai disini, karena saya tidak ingin membuat permasalahan termonologi ini semakin bertele-tele. Mungkin naluri sebagai anak seorang guru bahasa Indonesia dan sebagai mantan mahasiswa ilmu komunikasi yang membawa saya mempermasalahkan istilah-istilah tersebut. Untuk kesimpulan saya tidak akan menyimpulkan, karena semua kembali pada pengetahuan, pemahaman, dan pemaknaan tiap orang.  :)

Saya hanya berharap, semoga tulisan saya tadi tidak semakin membuat benang semakin kusut, and you're the one who can close this case!! thanks (sepertinya ketiga istilah ini membuat saya mabuk). 

-inspirasi dari brainstorming with my super girl sopitenk n mpok- @kostnya mpok jamnya lupa, yg pasti habis sopi kompre :D

Thursday, April 7, 2011

love is still unknown

maybe it was 2 weeks ago one of my friend told me about his love story. He said that his heart hurt so much. But it was 2 days ago i found he got a new girlfriend. I just shocked because it seems that finding a love is easy, or can i say is that a truly a love??
when he just need more or less 2 weeks to closed his past and start a new story, a love story.
Meanwhile, why do i need a long long time to forget about my past?
I always say to myself that time will heal everything, but how long?
Or maybe the term of time is different for each person, maybe my friend only need 2 weeks than for me maybe 2 years, or more???!!!

i do have no idea about love story, open this heart for somebody else is not an easy thing!
and i just can say that the meaning of love is still unknown!!

Monday, April 4, 2011

Idola: Sebuah filosofi mimpi

Tulisan ini berawal dari curhat seorang teman yang mendapat tanggapan sebelah mata beberapa orang ketika ia menceritakan akan idolanya. Namun curhat ini hampir sama dengan yang saya rasakan, sehingga sesi curhat jadi sharing. Saya sendiri juga sering mendapat komentar yang kurang sehat di telinga saya. Banyak teman-teman saya yang bukannya salah tapi tidak sependapat dengan saya, selalu berkata bahwa saya ini hanya bermimpi, mimpi yang tidak mungkin karena mimpi itu tidak masuk akal. Namun, menurut saya, tanggapan tersebut justru menurut saya tanggapan yang tidak masuk akal. Banyak orang yang mengidolakan SBY, meskipun saya tidak, namun ketika ada yang memuja SBY, saya bahkan tak punya keinginan untuk mencibir, mencela, atau apalah, karena menurut saya itu wajar.

Teman saya itu sangat mengidolakan apapun yang mempunyai unsur dan berbau korea. Sebut saja se7en yang dikatakan “mantan suaminya” lalu sekarang hongki “her pop corn” atau nama lain dari brondong. Dia merasa tidak ada yang salah dengan memberikan mereka stempel “idola” karena menurutnya dengan memiliki idola itu sama dengan memiliki mimpi, mimpi ingin bertemu idola, sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi. Dan saya sangat menyetujuinya. Teman saya yang lain juga berkomentar “Korea itu tidak jauh kita bisa kesana dan dengan kata lain bertemu dengan mereka itu sangat mungkin”. Saya juga menyetujui komentar ini, karena selama kita mengidolakan sosok yang masih berwujud sama dengan kita a.k.a manusia, kita masih sangat bisa menjangkaunya. Dari komentar teman saya itu saya juga berkata pada diri sendiri bahwa probabilititas itu ada.

Siapa tahu saya setelah lulus bisa sekolah di london?
Siapa tahu di London saya bertemu Beckham (idola sepanjang masa dan tiada tara)?
Atau teman saya tadi karena keinginannya bertemu idola akhirnya berusaha bisa bekerja di korea, banyak kan orang Indonesia yang bekerja disana!!!
Dan banyak sebuah mimpi akan idola, yang benar-benar terjadi…
Katie holmes, sebelum menjadi artis pernah berkata pada poster Tom Cruise yang tertempel di kamarnya, dia berkata kira-kira seperti ini “ we’ll get married”, dan itu terjadi.
Mira Lesmana, bicara pada foto matias mutchus di suatu majalah, “ini suami gue nantinya”. Dan ini juga terjadi.
Karena mereka tidak hanya diam bila punya idola, meskipun menurut orang-orang dan menurut kita itu tidak masuk akal.

Benar-benar tidak ada yang salah dengan mempunyai idola.
Selama kita bisa bersifat positif, idola juga akan memberikan efek positif. Adik teman saya saat ini sedang belajar drum karena dia edang mengidolakan pemain drum. Teman saya belajar bahasa korea agar dia bia berkomunikasi dengan idolanya. Teman saya lagi, belajar bahasa inggris sejak ia mengenal westlife dan ini sudah terbukti, she can speak well!!!
 
Sedangkan saya sendiri, selain mengidolakan beckham saya suka dengan Barra Pattiradjawane “si tukang masak” dan saya benar-benar ingin bisa masak, dan saya ingin sekolah masak, dan saya juga ingin punya sebuah coffeeshop atau kafe dengan makanan by myself. Masalah beckham sebagai idola saya sepanjang masa dan tiada tara, sejak dulu saya selalu ingin membuat buku tentangnya.

Apakah yang saya uraikan tadi masih harus dikomentari dengan sarkas? Menurut saya tidak ada yang salah dan tidak akan pernah salah dengan mempunyai idola, selama kita masih bisa berpikir rasional. Belajar bahasa korea karena mengidolakan artis korea, belajar masak karena mengidolakan seorang chef, belajar drum karena mengidolakan pemain drum. Bila seperti itu yang terjadi maka seorang idola jelaslah menjadi sebuah motivasi.

Belajar dari Traffic Light


…mungkin cucu tersebut baru saja mendapat pelajaran di sekolah tentang ”kesepakatan” warna lampu lalu lintas. Merah berarti berhenti, kuning tanda untuk bersiap-siap, dan hijau kendaraan boleh melanjutkan perjalanan….

Teringat sebuah cerita tentang kakek dan cucunya. Suatu hari seorang kakek mengajak cucunya untuk berjalan-jalan. Saat perjalanan pulang, ketika mobil mereka dekat dengan lampu lalu intas yang telah menunjukkan warna kuning, sang cucu berkata pada kakeknya untuk berhati-hati. Tepat ketika mobil sampai di bibir batas lampu, warna kuning telah berganti merah, namun karena mobil telah sedikit melewati dan kendaraan dari arah berlawanan masih belum mulai jalan kakek terus melanjutkan perjalanan. Lalu sang cucu mulai berkomentar, ”lho lampu merah kok terus, kan harusnya berhenti???”. Komentar yang menurut kakek hanya sebuah komentar itu tidak ditanggapi, sehingga selanjutnya memang tak ada penjelasan dari kakek dan cucu terdiam dengan mimik wajah penuh dengan tanda tanya.
 
Dari cerita tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa mungkin cucu tersebut baru saja mendapat pelajaran di sekolah tentang “kesepakatan” warna lampu lalu lintas. Merah berarti berhenti, kuning tanda untuk bersiap-siap, dan hijau kendaraan boleh melanjutkan perjalanan. Sedangkan kakek, mungkin karena telah banyak makan asam garam dan belajar dari asinnya rasa garam tersebut, ia bisa mengira bahwa ketika lampu telah merah namun kendaraan telah lewat batas berhenti, maka kendaraan boleh lewat karena ia telah memperhitungkan dengan baik bahwa semua akan baik-baik saja. Mungkin kakek telah memperhitungkan secara fisika masalah kecepatan, jarak, waktu, momentum, dan rumus-rumus lain yang ia dapatkan dari asinnya garam tadi. Atau memang telah ada kesepakatan bila antar sesama pengguna jalan tentang hal ini?. Yang pasti kita harus tetap ingat akan mimik wajah cucu kakek tersebut yang masih menunggu penjelasan.

Membicarakan lampu lalu lintas, mungkin lebih baik kita mengerti dahulu tentang sejarah munculnya lampu ini. Lampu lalu lintas ini merupakan sebuah solusi yang disampaikan polisi di London William Potts, Pots melihat adanya ketidakberesan atau kekacauan lalu lintas di jalan yang semakin hari semakin memusingkan, akhirnya dia membuat sebuah lampu dengan tiga warna seperti yang dikenal sampai saat ini. Namun yang akhirnya dipatenkan adalah karya Garrett Morgan, karena hasil karyanya yang mampu menarik perusahaan GE (General Electric) yang membeli hak paten dan memproduksi lampu secara massal. Sebenarnya, kita tak juga harus meributkan sejarah lampu lalu lintas yang ternyata juga lumayan “ribut”, karena apapun sejarah tersebut kita patut berterima kasih karena dengan adanya lampu tersebut jalanan menjadi lebih terkendali. Seperti tujuan awal lampu ini adalah untuk mengendalikan lalu lintas.
 
Tapi, manusia memang makhluk kita sendiri sebagai manusia tidak bisa memprediksi isi pikirannya. Kita bisa mengetahui isi samudra yang dalamnya rimuan meter namun kita tidak bisa menyelami isi pikiran manusia yang tak bahkan tidak ada satu meter dalamnya. Manusia dengan begitu hebatnya membuat sebuah jalan keluar dari masalah mereka. Namun manusia jug seringkali terjebak dengan pikiran mereka sendiri. Kita terkadang menerobos lampu merah, dimana mereka seharusnya berhenti sebelum membuat semuanya menjadi kacau. Ada saatnya kita harus memberikan lampu hijau untuk orang lain karena memang bukan waktu untuk kita, dan kita juga harus selalu bersiap-siap mengetahui apa selanjutnya yang harus mereka lakukan karena lampu kuning dalam diri mereka sedang menyala.
 
Kalau kita perhatikan lampu merah ini juga bisa kita analogikan sebuah konsep Freud yang dikenal dengan Ego, Id, Superego. Lampu merah merupakan unsur normatif dimana kita harus bertindak sesuai dengan konstruksi masyarakat dan sesuai norma, kita harus membuat diri kita sesuai dengan apa yang orang lain mau. Lampu hijau adalah hasrat manusia yang ingin bebas, dan melakukan apa saja. Sedangkan lampu kuning adalah jempatan antara hasrat diri dan tindakan normatif. Ketika kita bisa mengendalaikan lampu lalu lintas dalam diri kita sendiri, bisa dikatakan bahwa kita telah berhasil melakukan semuanya sesuai jalan. Tidak ada salahnya kita belajar dari traffic light.

Lampu sudah hijau, saatnya melanjutkan perjalanan anda…..

@ home, 30 Januari 2010, 10.33 wib

Saya

My Photo
perempuan yang tak bisa mengerti kemauan diri sendiri

buku tamu

Rekan

Powered by Blogger.