6 years ago
Sunday, August 12, 2012
Wednesday, July 18, 2012

Efek jarak itu mulai terasa, saya menyebutnya penurunan
produktivitas. Bagaimana tidak, vitamin yang biasanya dikonsumsi 2-3 kali
seminggu harus dihentikan mendadak. Ternyata saya sudah sakau dengan vitamin
saya selama ini, dosis yang harusnya dikurangi secara perlahan itu langsung
diputus di tengah jalan. Teknologi yang menjadi satu-satunya media ternyata
tidak cukup, belum ada yang menandingi pintu kemana saja milik doraemon.
Semua kegalauan dan keresahan yang selalu seliweran di
kepala ini sangat mengganggu, hanya sebuah keyakinan akan akhir yang baik yang
mampu menangkalnya. Namun, semakin sering memikirkan akhir yang baik itu,
semakin ingin waktu berjalan cepat dan akhirnya bertemu pada satu masa yang
memang mengizinkan saya kembali mengonsumsi vitamin saya, secara rutin, bahkan
over dosis.
Seharian kemarin, bersama seorang sahabat lama melintasi
Batavia, membuat saya kembali bertemu perasaan galau tak karuan, namun ternyata
semua hal itu memang diciptakan berpasang-pasangan dan saling bertolak belakang
yang membuat hidup seimbang. Saat perasaan galau, gundah, gulana itu ada,
sebuah keyakinan seyakin-yakinnya yakin semakin kuat.
Meskipun…………
Terlalu banyak tempat yang belum sempat kita datangi berdua
Terlalu banyak film yang belum sempat kita lihat berdua
Terlalu banyak lagu yang belum sempat kita dengar berdua
Terlalu banyak cerita yang belum sempat kita ujarkan di
tempat ngopi favorit kita berdua
Terlalu banyak jalan yang belum sempat kita lewati berdua
Terlalu banyak rencana yang selalu tak terlaksana,
Namun, bukankah waktu untuk kita masih panjang?
Lalu, keyakinan itu disambut dengan niat dari yang sedang
terpisah jarak, ketika dia dengan yakin memberikan sebuah mantra, meskipun melalui telepon, saya tahu
mantra tersebut diucapkan secara tulus dan semoga mantra tersebut benar-benar
bertuah.
Seketika saya ingin meneriakkan kepada semua orang “He’s proposing me!!!”.
Tapi saya masih tak mau membagi kebahagiaan itu, saya masih
ingin egois menikmatinya sendiri ;)
Menteng, 180712, 03.42 PM.
Friday, July 13, 2012
![]() |
| source: www.tumblr.com |
Sadar kalau selama ini tidak sadar melakukan
hal yang (kadang) tidak bisa diterima secara sadar.
Penafsiran akan sebuah judul yang terlintas begitu saja,
secara tidak sadar.
Ternyata selama ini sudah menjadi seorang stalker,
pengintip, secara tidak sadar.
Sadar kalau ternyata selama ini sudah keblinger, secara
tidak sadar.
Atau..
Anda membaca postingan ini, secara tidak sadar??
Kalau uraian saya membuat anda bingung, berarti anda sadar,
dan sebaliknya bila anda mengerti maka anda sedang tidak sadar…
Ketidaksadaran ini muncul dari obrolan (lagi-lagi) absurd,
tentang hal yang tidak sadar dilakukan, hl yang bisa dikatakan tidak masuk
akal, kurang kerjaan ataupun terobsesi. Untuk itulah dinamakan stalker,
penguntit, atau yang lebih manusiawi, pengintip.
Sedikit percakapan pengintip yang ingin ia bagi;
……………………….
X; makanya kita harus
sering cerita
Y; iya, kita mesti
harus sering cerita
X;eh tapi baru
sekarang lo aka bisa cerita gak ada beban
Y; sama , hahaha
X; nah, hal2 yang gak
di sangka ini lo yang aku maksud gak perlu cari alasan tapi kita paham. Apa ya
istilahnya?
Y; apa ya, unconscious reason mungkin..
X; mungkin, ah ntar kalau ketemu istilah yag pas
aku kasih tau deh
Y; hahaha, kamu kan
yang lebih tahu tentang komunikasi. Ntar kita bahas deh
X; ok
Y; but I do have faith
in you
X; asyiikkk J
Y; nyaman pacaran sama
kamu, gak ada beban. Hubungan yang kayak gini yang selalu ak inginkan
X; iya, aku juga gitu.
Dulu kalau teman2ku tanya siapa pacarku aku sempet kepikiran sama komentar
mereka, katanya ak yang terlalu milih lah apa lah…
Y; sama aku juga
dibilang gitu, haahahhaa
X; padahal menurutku
wajar dong, kita beli apa aja pasti milih dulu
Y; selektif tapi bukan
perfeksionis
X; kalau menurutku
kita proses memilih itu bukan berarti harus punya banyak pengalaman pribadi.
Kita kan bisa belajar dari pengalaman orang lain? Kalau dari awal udah gak sreg
yan gak usah dimulai kan?
Y; betul, sepakat!!!
X; kita itu banyak
persamaan namun banyak perbedaan juga ya? Ups, I found a reason lagi. Aku itu
gak pernah lo hafalin kebiasaan orang dengan sengaja.
Y; I’m listening…
X; tapi kok aneh ya kalau sama kamu. Kebiasaanmu
itu secara gak sadar aku hafal. Berarti aku selama ini secara gak sadar
memperhatikanmu ya?
Y; *menyimak
X; kebiasaan yang kamu sebut ritual pagi (minum
kopi plus merenung sambil dengerin musik), dan kebiasaan yang lain kamu sukanya
apa, gak nyaman kalau gimana? Dan aku gak merasa memperhatikan itu dengan
sengaja. Sadar diantara ketidaksadaran. Hahahaha
Y; *masih menyimak
X; aku dulu sempat
bertanya orang yang sudah lama pacaran, atau yang udah nikah itu bisa tau
banget kebiasaan pasangannya.yang buat aku kepikiran itu, kok bisa ya??
Menurutmu hal itu bisa jadi alasan kah?
Y; hmmmm, alasan
kenapa kamu secara tidak sadar memperhatikan? Jalaran soko kulino (karena
terbiasa). Tau nggak yang aku maksud punya alasan logis itu kurang lebih kayak
gini. Ternyata sebelum aku sadar akan perasaanku aku sudah memperhatikanmu.
X; iya juga sih, tapi kalau ke teman-teman yang lain aku g se
detail kayak ke kamu..
Y; aku juga memperhatikanmu
lo, waktu kita sering ngobrol sambil ngopi sama teman2, kamu jam 8 malam udah
tidur tapi tengah malem pasti bangun sampai pagi
X; wah tapi kamu bukan
spy kan?
Y; khusus ke kamu aku
jadi spy deh… :D aku itu gak secuek yang
orang kira, kalau ke kamu aku berusaha sedikit terbuka agar kamu tahu siapa
aku.
X; I feel it kok ;)
Y; ternyata kamu
ngrasa ya?
Kalau di kantor aku
sering ke ruanganmu itu ternyata aku cuma pengen tau kamu lagi apa, pengen tau
who really you are
X; menurut kamu aku
sering ke bawah itu knp?kalau bukan ngecek keberadaanmu :P
Y; aku tanya tentang
keluargamu itu juga karena pengen kenal kamu secara lebih. Ternyata we do the
same things, mengintip kehidupan masing-masing
X; dasar pengintip,
when stalker meets stalker
Y; hehehe, ide bagus
tuh simpan buat tulisan car.
X; Aku ada
deskripsinya looo
When Stalker meets
stalker (Sadar kalau selama ini tidak sadar melakukan hal yang (kadang) tidak
bisa diterima secara sadar)
Riweh kan??
Y; riweh tapi aku
ngerti kok
X; J
Perlahan namun pasti si pengintip mulai menyadari kebiasaan
mereka, dan mereka mulai asyik mengingat, merangkai, dan memaknai kode-kode
yang sepertinya mereka sendiri yang tahu. Daripada kita dibuat bingung lebih
baik kita tinggalkan kedua pengintip yang sedang keblinger ini…
Menteng, 190412(rev:130712),
10:05 AM
Monday, July 2, 2012
![]() |
Pagi tadi, tepatnya jam 6 pagi
saya terbangun oleh suara dering hp. Nama yang tertera di layar tidak membuat
saya terburu-buru mengangkatnya, saya langsung minum air putih, ke kamar mandi
dan gosok gigi untuk menghilangkan suara khas orang bangun tidur. Ketika kembali,
suara dering itu sudah berhenti, saya duduk beberapa saat sambil memegang hp
dan sedikit ragu untuk menghubungi kembali nomor yang menelepon saya. Akhirnya,
saya memutuskan untuk menelepon apapun resikonya. Saat suara di seberang
terdengan, saya masih grogi untuk memulai percakapan pagi itu.
Bagaimana tidak grogi dan salah
tingkah? Kalau pagi hari sudah di telepon ibuknya pacar? Well, saya memang
sudah officially kenalan dengan beliau secara live, orangnya asyik, bahkan
sudah terang-terangan sms saya, bahwa beliau sudah sreg kalau saya jadi mantunya. Perasaan
senang dan bangga jelas, karena berarti saya sudah lolos uji kelayakan calon
menantu. Tapi tetap saja bicara lewat telepon tadi pagi benar-benar membuat
saya masih kaget, meskipun yang terjadi selanjutnya percakapan
kami juga lancar-lancar saja. Bahkan, saya tidak tahu bagaimana bisa
berbasa-basi agar tidak terlihat kaku. Semoga memang sebuah awal yang baik,
amiin.
Mbak saya pernah bilang, kalau
laki-laki sudah berani mengenalkan kita ke keluarganya, itu tandanya dia
serius.Langkah awal pacar mengenalkan saya ke keluarganya adalah
titik kulminasi dimana saya akhirnya memantapkan hati untuk merancang sebuah
masa depan bersamanya -sebuah komitmen yang selama ini masih selalu terlihat menakutkan bagi saya-. Tapi, ketika niat serius itu ditanggapi serius membuat saya
sedikit takut, terlebih bila sudah ada pertanyaan “kapan”. Seperti dikejar
sebuah deadline yang memaksa kita harus siap lahir batin, padahal kita
sendiri belum mempersiapkan apa-apa. Deadline kali ini bebannya masya allah,
berat sodara-sodara.
Kalau yang dibicarakan itu
wedding, maka sebuah prosesi yang bahkan sebuah wedding organizer dalam semalam
juga bisa mewujudkannya, maka kapan itu bisa dijawab kapan-kapan. Tapi when
it comes to the term marriage? Is not only about I love you, you love me, but
also about two big families that must be mix together, not about us anymore!!. Bukan
tentang menjadi raja dan ratu sehari, tapi hari-hari selanjutnya yang harus
dipikirkan. Semakin paranoia dengan prediksi-prediksi yang kita buat sendiri. Apalagi
sebagai manusia, kita hanya bisa berencana, selanjutnya semua sudah ditentukan oleh yang
maha segala-galaNya. Maka pertanyaan kapan itu sulit untuk dijawab.
Berdo’a, bersujud, tawakal, dan
istiqomah yang saat ini sedang ingin saya prioritaskan, agar semua
rencana kita bisa sejalan dengan rencanaNya, Amiin. Untuk ayah, ibuk, saudara,
teman, tetangga, dan semuanya, biarkan kita menikmati nikmat cinta dari Allah yang saat
ini sedang kami rasakan, biarkan kita fokus kepada kerjaan yang akan menjadi
awal ita bisa menjawab "kapan" itu, biarkan kita membuat rencana masa depan kita secara
perlahan namun pasti. Kami tak mau diburu waktu, kami percaya bahwa menunggu
sebentar untuk sesuatu yang lama itu akan membuat kita lebih menikmati
prosesnya.
Ujung segala ketakutan itu
adalah, ketika semua ada di luar kendali kita. Pertanyaan akankah masa depan
itu milik kita, bukan suatu hal yang harus dihindari. Terlebih saat ini banyak sekali
rencana kita yang masih belum diberikan jalan olehNya. mulai dari rencna yang cuma ngopi, jalan-jalan bareng, atau liburan tiu elalu berantakan di detik terahir. Semoga dengan jarak yang
lebih menjauhkan kita ini, akan membuat kita saling memaknai dang menghargai arti keberadaan satu sama lain.
Allah hanya menguji kita, bila kita lulus ujian, layaknya anak kecil yang berhasil lulus dengan nilai bagus, ia pantas mendapatkan apa yang diminta. Seperti, beberapa hari lalu saya mendengar kata-kata orang yang sedang membicarakan kita, meski dalam bahasa sunda, saya berusaha mencerna artinya, kira-kira seperti ini "memang kalau orang yang serius itu biasanya awalnya pasti sulit kok"..Semoga begitulah akhirnya masa depan kita, indah pada waktunya.
Allah hanya menguji kita, bila kita lulus ujian, layaknya anak kecil yang berhasil lulus dengan nilai bagus, ia pantas mendapatkan apa yang diminta. Seperti, beberapa hari lalu saya mendengar kata-kata orang yang sedang membicarakan kita, meski dalam bahasa sunda, saya berusaha mencerna artinya, kira-kira seperti ini "memang kalau orang yang serius itu biasanya awalnya pasti sulit kok"..Semoga begitulah akhirnya masa depan kita, indah pada waktunya.
Amiin :)
Menteng,
02062012, 05.36PM
Sunday, July 1, 2012
Saya sering bertanya komentar dari teman yang sudah kenal
tentang kesan pertamanya terhadap saya. Hampir selalu mempunyai jawaban yang
sama; diam, judes, nggak pernah senyum. Meskipun setelah kenal mereka
benar-benar tahu bagaimana saya sebenarnya, terima kasih teman . Kesan di awal
tersebut tidak sepenuhnya salah, karena semuanya sudah sepaket dengan saya,
hanya hallo effect yang berakhir positif.
Seringnya dulu diingatkan, untuk tersenyum. Saya sendiri
kurang memahami morfologi mimic muka saya yang secara reflek tertekuk, sebuah
mimic datar tanpa ekspresi dan sedikit menyebalkan pun tercipta. Dan akhirnya
saya kembali diingatkan untuk tersenyum.
Sebenarnya saya sering berkaca, mencoba semua ekspresi
senyum yang ingin selalu terpasang. Tapi, suasana hati, emosi jiwa, dan batin
itu punya ikatan ajaib yang mampu menciptakan ekspresi yang kita sendiri kadang
tidak menyadarinya.
Jangan pernah bosan mengingatkan saya untuk tersenyum ya :-*
Menteng, 250612, 03.30 PM
Subscribe to:
Posts (Atom)

